Senin, 12 Maret 2012

Proses Pembentukan Urin

Dalam posting sebelumnya berjudul Sistem Ekskresi Pada Manusia, telah sedikit kita bahas mengenai ginjal dan bagian bagiannya. Seperti kita tahu, ginjal adalah salah satu organ ekskresi yang berfungsi membuang zat sisa metabolisme dalam bentuk urin. Proses pembentukan urin sendiri dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap penyaringan (filtrasi), tahap penyerapan kembali (reabsorbsi), dan tahap augmentasi. Dan berikut adalah penjelasannya.



filtrasi, reabsorbsi, augmentasi

1. Penyaringan (Filtrasi)

Mula-mula darah yang masih mengandung air (H2O), glukosa(C6H12O6), amonia (NH3), garam, urea, dan asam amino masuk ke glomerulus melalui arteriol afferent untuk mengalami proses filtrasi. Glomerulus merupakan bagian dari badan malpighi. Sel-sel kapiler glomerulus yang mempuyai karakteristik berpori dan bertekanan tinggi ini semakin mempermudah berlangsungnya proses penyaringan atau filtrasi.

Di dalam glomerulus, terjadi proses penyerapan kembali sel-sel darah, keping darah, dan molekul-molekul protein yang berukuran besar. Sementara itu, molekul-molekul kecil yang terkandung dalam darah seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, dan urea lolos dari penyaringan dan ikut mengendap bersama urin primer. Urin primer yang sudah terbentuk ini kemudian akan ditampung di dalam kapsul bowman.

2. Penyerapan Kembali (Reabsorbsi)

Setelah darah mengalami filtrasi di glomerulus, maka urin primer yang sudah ditampung dalam kapsul bowman akan masuk ke dalam tubulus kontortus proksimal untuk mengalami proses penyerapan kembali (reabsorbsi).

Urin primer yang terbentuk melalui proses filtrasi masih mengandung beberapa zat yang berguna bagi tubuh, seperti glukosa, asam amino, dan beberapa ion seperti Na+, Cl, HCO3-, dan K+. Zat-zat yang masih berguna bagi tubuh ini selanjutnya akan masuk ke dalam pembuluh darah yang mengelilingi tubulus. Semantara itu zat-zat yang sudah tidak berguna lagi bagi tubuh seperti amonia, garam, dan urea akan membentuk urin sekunder. Urin sekunder ini lalu masuk ke lengkung henle untuk menuju ke tubulus kontortus distal. Pada saat melewati lengkung henle, air urin akan berubah menjadi lebih pekat dan volumenya menurun karena terosmosis. Pada urin sekunder ini, sudah tidak ditemukan lagi zat-zat yang masih berguna bagi tubuh. Sementara itu, komposisi zat-zat sisa metabolisme akan bertambah.

3. Augmentasi

Setelah mengalami proses reabsorbsi, urin sekunder akan masuk tubulus kontortus distal melalui lengkung henle. Di dalam tubulus kontortus distal, urin sekunder akan kehilangan banyak sekali air (H2O) sehingga urin menjadi lebih pekat. Disini jugalah urin sekunder mengalami penambahan zat sisa dan zat-zat beracun seperti ion hidrogen (H+) dan urea.

Setelah mengalami penambahan berbagai zat sisa pada proses augmentasi, urin sekunder kemudian menuju pelvis lalu masuk ke vesica urinaria melalui saluran ureter untuk ditampung sementara. Dari sana urin akan menuju ke kantung kemih. Kantung kemih hanya mampu menampung kurang lebih 300 ml air urin. Saat kantung kemih terisi penuh, maka dinding kantung kemih akan tertekan sehingga kita merasa ingin buang air kecil.

Urin yang ditampung di dalam kandung kemih ini selanjutnya akan keluar tubuh melalui saluran uretra. Urin sesungguhnya ini memiliki komposisi berupa air 96%, urea 2,5%, garam 1,5%, dan juga telah bercampur dengan zat warna empedu yang memberi warna pada air urin.

Manusia sendiri normalnya akan memproduksi urin sebanyak dua liter per hari. Banyak sedikitnya air urin yang diproduksi oleh manusia sebenarnya juga disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah jumlah air yang diminum, suhu udara, dan tekanan darah.

Sumber 1: Buku BSE kelas IX SMP
Sumber 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar